Fish

Jumat, 07 Juni 2013

OBSERVASI KE SLB LAPORAN



OBSERVASI KE SLB
LAPORAN OBSERVASI ASESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUSDisusun oleh :
KELOMPOK
NO.
NAMA
NIM
1.                     
JULKIFLY FAICO SIAHAAN
822984475
2.                     
PASU MAWAR LINA NAINGGOLAN
822875391
3.                     
YAYUK AGENG WEDARI
822984411
4.                     
VERANIKA
822984404
5.                     
MASNIAR
822876211
6.                     
ARI KUSNANI
822839632
7.                     
LIDYA SARI TANJUNG
822984508
8.                     
NIKI ASTRA
822876171
9.                     
FORIANA SUSMINTA GULTOM
822876949
10.                 
ILINDA DELIMA
822874572
11.                 
FEMELIA EKA
822876322
12.                 
DAHLIA
822875352

JURUSAN PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TERBUKA
http://images.solopos.com/2012/06/1606logo_universitas_terbuka-254x320.jpg
POKJAR : LIMA PULUH, BATU BARA
2012 – 2013
KATA PENGANTAR
            Segala puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia yang tak terkira sehingga penulis dapat menulis Laporan Observasi Anak Berkelainan Khusus di SDLB Negeri No. 017700 Kisaran Naga kecamatan Kisaran Timur kota Kisaran Tahun Pembelajaran 2012/2013.
            Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan baik isi maupun kualitasnya. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
                                                                      
                                                Lima Puluh, 19 Mei 2013
                                                Penulis,
NAMA
NIM
JULKIFLY FAICO SIAHAAN
822984475
PASU MAWAR LINA NAINGGOLAN
822875391
YAYUK AGENG WEDARI
822984411
VERANIKA
822984404
MASNIAR
822876211
ARI KUSNANI
822839632
LIDYA SARI TANJUNG
822984508
NIKI ASTRA
822876171
FORIANA SUSMINTA GULTOM
822876949
ILINDA DELIMA
822874572
FEMELIA EKA
822876322
DAHLIA
822875352




BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna adalah manusia. Tetapi sering kali manusia kurang bersyukur atas pemberian Tuhan. Terkadang mereka sampai melakukan oprasi untuk memperindah bentuk tubuhnya atau agar mereka terlihat cantik atau tampan. Bahkan ada juga yang sampai melakukan oprasi untuk mengubah jenis kelamin. Mereka tidak pernah menyadari bahwa masih ada orang-orang diluar sana yang kurang beruntung dibandingkan dirinya, misalnya saja orang-orang yang berkebutuhan khusus. Orang menciptakan orang-orang berkebutuhan khusus bukan tanpa alasan. Melainkan Tuhan ingin menyadarkan makhluk-makhluknya untuk tidak sombong dan selalu bersyukur.
Orang-orang yang berkrbutuhan khusus sering diolok-olok dan dikucilkan. Padahal mereka juga memiliki hak yang sama dengan orang-orang nornal pada umumnya. Mereka juga mempunyai hak untuk menuntut ilmu, akan tetapi mereka tidak bisa sekolah di sekolah umum, melainkan di sekolah  khusus untuk orang-orang yang berkebutuhan khusus  (SLB).
Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi kita agar selelu bersyukur, karena Tuhan menciptakan kita dengan kesempurnaan. Bukan hanya itu, kita juga hars bisa menghargai mereka dengan tidak mengucilkan atau mengolok-oloknya.

1.2        Rumusan Masalah
Yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1.        Apa saja jenis-jenis orang berkebutuhan khusus?
2.        Bagaimana sistem pembelajaran yang digunakan untuk anak yang berkrbutuhan khusus?
1.3        Tujuan Penelitian
Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk:
1.        Mengetahui jenis orang-orang berkebutuhan khusus.
2.        mengetahui cara atau sistem pembelejaran yang diberikan kepada anak-anak yang berkebutuhan khusus.

1.4        Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1.        Menambah rasa syukur kita kepada Tuhan karana telah menciptakan kita tanpa kurang suatau apapun.
2.        Bisa manghargai keberadaan mereka dengan cara tidak mengucilkan atau mengolok-oloknya.













PROFIL SEKOLAH KUNJUNGAN

Nama Sekolah                                     : SDLB Negeri
Nama Kepala Sekolah                         :
NIP                                                     :
Alamat                                                :
                        Kelurahan                    :
                        Kecamatan                              :
                        Kota                            :
                        Provinsi                       : Sumatera Utara
Kode Area                                          :
No. Telp                                              :
No. Fax                                               : -
E-mail                                                  :
            a.    NSS                                    :
            b.    Jenjang Sekolah                 : Sekolah Dasar
            c.    Tahun Pendirian                 :
            d.    Tahun Beroperasi               :
            e.    Kepemilikan Tanah            :
§  Status Tanah                  :
§  Luas Tanah                    :
§  Status Bangunan Milik :
§  Luas Seluruh Bangunan:                                
            f.     Sekolah Dibuka Tahun      :

 WAKTU KUNJUNGAN
Kunjungan ini dilaksanakan pada :
Hari                                                     : Sabtu
Tanggal                                               : 18 Mei 2013
                                                                        Kisaran, 18 Mei 2013
                                                                        Ka. SDLB Negeri No.


                                                                        (   ………………………   )
Program Layanan
Program layanan atau kelas yang tersedia di SDLB Negeri No.  017700 Kisaran Naga                   antara lain:
a.            Jurusan untuk tuna netra  ( SLB – A kelas 3  )
Anak tuna netra adalah anak dengan kebutuhan khusus berupa keterbatasan dalam indera penglihatan mata. Pada umumnya anak-anak ini memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak pada umunya, hanya dalam pembelajarannya merekan lebih cenderung menggunakan indera peraba dan pendengaran.

b.           Jurusan untuk Tuna rungu  ( SLB – B Kelas 1 - 6 )
Anak dengan kebutuhan ini adalah anak dengan keterbatasan melakukan komunikasi secara verbal. Mereka tidak bias menggunakan kata-kata seperti yang kita ucapkan. Dalam berkomunikasi mereka menggunakan bahasa isyarat atau komunikasi dengan simbol.

c.            Jurusan untuk Tuna grahita  ( SLB - C kelas 1 - 6)
Anak tuna grahita adalah anak yang memiliki keterbatasan berupa IQ yang kurang, yaitu dibawah 70, kurang tanggap, lebih banyak bergantung kepada orang lain, penampilan kurang proporsional, kecakapan bahasa kurang.

d.           Down Sindrome
Down sindroma merupakan kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21 pada berkas q22 gen SLC5A3,[1] yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. wn. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongoloid maka sering juga dikenal dengan mongolisme.

e.            Autisme
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Jenis-jenis Anak Berkebutuhan khusus
Dari hasil penelitan yang kami lakukan,jenis-jenis anak yang berkebutuhan khusus, terdapat 3 orang jenis anak yang yang berhasil kami teliti yaitu :
1.      Anak Tunanetra
Tunanetra adalah gangguan daya penglihatan, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus, mereka masih tetap memerlukan pendidikan khusus
Ciri-ciri :
1.      Tidak mampu melihat
2.      Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter
3.      Kerusakan nyata pada kedua bola mata
4.      Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan
5.      Mengalami kesulitan saat mengambil benda kecil disekitarnya
6.      Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik/kering
7.      Peradangan hebat pada kedua bola mata
8.      Mata bergoyang terus

Kelompok yang Mengalami Keterbatasan Penglihatan :
         Mengenal bentuk atau obyek dari berbagai jarak
         Menghitung jari dari berbagai jarak
         Tidak mengenal tangan yang digerakkan


Kelompok yang Mengalami Keterbatasan Penglihatan yang Berat (Buta) :
         Yang tergolong mempunyai persepsi cahaya (light perception)
         Yang tergolong tidak memiliki persepsi cahaya (no light perception)

Layanan Pendidikan Tunanetra Dikelompokkan Menjadi:
         Mereka mampu membaca cetakan standart
         Mampu membaca cetakan standart dengan menggunakan kaca pembesar
         Mampu membaca cetakan besar (ukuran huruf:18)
         Mampu membaca cetakan kombinasi cetakan reguler dan catakan besar
         Membaca cetakan besar dengan kaca pembesar
         Menggunakan Braille tetapi masih bisa melihat cahaya (sangat berguna untuk mobilitas)
         Menggunakan Braille tetapi tidak punya persepsi cahaya

Keterbatasan Anak Tunanetra :
         Keterbatasan dalam konsep dan pengalaman baru
         Keterbatasan dalam berinteraksi dengan lingkungan
         Keterbatasan dalam mobilitas

Kebutuhan Pembelajaran Anak Tunanetra :
Karena keterbatasan anak tunanetra, maka pembelajarannya harus mengacu kepada prinsip-prinsip:
         Kebutuhan akan pengalaman konkret
         Kebutuhan akan pengalaman memadukan
         Kebutuhan akan berbuat dan bekerja dalam belajar
Media Belajar Anak Tunanetra dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
         Kelompok buta dengan media pembelajarannya adalah tulisan Braille
         Kelompok Low Vission dengan medianya adalah tulisan awas yang dimodifikasi (huruf diperbesar, penggunaan alat pembesar tulisan)

Keterampilan Kompensatoris bagi anak Tunanetra :
         Keterampilan membaca dan menulis huruf Braille
         Keterampilan melakukan mobilitas: Perlu latihan Orientasi dan Mobilitas (kemampuan menemukenali lokasi, dan kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tepat dan aman

2.      Anak Tunarungu
Tunarungu adalan seseorang yang kehilangaan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga mengalami gangguan dalam berkomunikasi. Fisik orang yang mengalami tunarungu tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya, hanya saja saat meraka berbicara tanpa suara atau dengan suara yang kurang atau tidak jelas artikulasinya, atau tidak bisa mendengar atau kurang bisa mendengar dan berbicara atau bisa berbicara tapi tidak bisa mendengar atau sebaliknya.

Ciri khas anak  tuna rungu bersifat kompleks, sukar untuk dapat diuraikan satu persoalan karena saling berpautan, pemerincian pembahasan beberapa segi yang penting di bawah ini dimaksudkan untuk menjelaskan uraian. 
Ø  Dalam segi fisik, dapat disebutkan sebagai berikut :
           Cara berjalannya kaku dan anak membungkuk. Hal ini disebabkan terutama terhadap alat pendengaran
           Gerakan matanya cepat agak beringas. Hal ini menunjukkan bahwa ia ingin menangkap keadaan yang ada di sekelilingnya.
           Gerakan kaki dan tangannya sangat cepat atau kidal. Hal tersebut tampak dalam mengadakan komunikasi dengan gerak isyarat.
           Pernafasannya pendek dan agak terganggu.

Ø  Ciri khas dari segi intelegensi
Intelegensi merupakan faktor yang sangat penting dalam belajar, meskipun disamping itu ada faktor – faktor lain yang dapat diabaikan begitu saja seperti kondisi kesulitan, faktor lingkungan intelegensi merupakan motor dari perkembangan siswa.

Ø  Ciri – ciri dari segi sosial
Perlakuan yang kurang wajar dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang berada di sekitarnya menyebabkan munculnya beberapa efek negatif seperti :
1) Perasaan rendah diri dan merasa diasingkan oleh keluarga atau masyarakat.
2) Perasaan cemburu dan salah sangka diperlakukan tidak adil
3) Kurang menguasai irama gaya bahasa.

Meskipun demikian sesuai dengan kemampuannya, pelajaran bahasa perlu diajarkan sebaik – baiknya, karena pergaulan biasa, apalagi komunikasi modern sangat memerlukan penguasaan baik secara aktif maupun pasif.

Ø  Ciri – Ciri khas dari segi emosi
Kekurangan bahasa lisan dan tulisan seringkali menyebabkan siswa tuna rungu akan menafsirkan sesuatu negative atau salah dalam hal pengertiannya. Hal ini disebabkan karena tekanan pada emosinya

3.      Tuna Grahita/Cacat Ganda
Tuna Grahita/Cacat Ganda adalah kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada mental intelektual (mental retardasi) sejak bayi / dalam kandungan atau masa bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh faktor organik biologis maupun faktor fungsional, adakalanya disertai dengan cacat fisik dengan ciri-ciri dan klasifikasi sebagai berikut.
Ciri ciri Tuna Grahita antara lain :
o  Kecerdasan sangat terbatas.
o  Ketidakmampuan sosial yaitu tidak mampu mengurus diri sendiri, sehingga selalu memerlukan bantuan orang lain.
o  Keterbatasan minat.
o  Daya ingat lemah.
o  Emosi sangat labil.
o  Apatis, acuh tak acuh terhadap sekitarnya.
o  Kelainan badaniah khusus jenis mongoloid badan bungkuk, tampak tidak sehat, muka datar, telinga kecil, badan terlalu kecil, kepala terlalu besar, mulut melongo, mata sipit.

Namun anak yang Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata Anak Luar Biasa (ALB) yang menandakan adanya kelainan khusus yang memiliki karakteristik berbeda antara satu dengan yang lainnya (Delphie, 2006:1). ABK terdiri atas beberapa kategori. Kategori cacat A (tunanetra) ialah anak dengan gangguan penglihatan, kategori cacat B (tunawicara dan tunarungu) ialah anak dengan gangguan bicara dan gangguan pendengaran. Kategori ini dijadikan satu karena biasanya antara gangguan bicara dan gangguan pendengaran terjadi dalam satu keadaan, kategori cacat  C (tunagrahita) ialah anak dengan gangguan intelegensi rendah atau perkembangan kecerdasan yang terganggu, kategori cacat D (tunadaksa) ialah anak dengan gangguan pada tulang dan otot yang mengakibatkan terganggunya fungsi motorik, kategori cacat tunalaras ialah anak dengan gangguan tingkah laku sosial yang menyimpang, kategori anak berbakat ialah anak dengan keunggulan dan kemampuan berlebih (IQ tinggi), dan kategori anak berkesulitan belajar ialah anak dengan ketidakberfungsian otak minimal .

Ada beberapa pengertian tunagrahita menurut beberapa ahli :
  • Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata (Somantri,2006:103). Istilah lain untuk siswa (anak) tunagrahita dengan sebutan anak dengan hendaya perkembangan. Diambil dari kata Children with developmental impairment. Kata impairment diartika sebagai hendaya atau penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampauan dalam segi kekuatan, nilai, kualitas, dan kuantitas (American Heritage Dictionary,1982: 644; Maslim.R.,2000:119 dalam Delphie:2006:113).
  • Penyandang tunagrahita (cacat ganda) adalah seorang yang mempunyai kelainan mental, atau tingkah laku akibat kecerdasan yang terganggu, adakalanya cacat mental dibarengi dengan cacat fisik sehingga disebut cacat ganda Misalnya, cacat intelegensi yang mereka alami disertai dengan keterbelakangan penglihatan (cacat pada mata), ada juga yang disertai dengan gangguan pendengaran. Adanya cacat lain yang dimiliki selain cacat intelegensi inilah yang menciptakan istilah lain untuk anak tunagrahita yakni cacat ganda. Penanganan pada setiap ABK memiliki cara tersendiri.Mulai dari segi akademik, pribadi dan sosial mereka. Semuanya disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental mereka.
Klasifikasi Jenis Kecacatan
Di Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih Pegadungan jenis kecacatan penyandang cacat grahita / cacat ganda terlantar dikelompokkan menjadi :
a.       Debil, yaitu retardasi mental ringan.Penyandang cacat yang termasuk dalam kelompok ini dapat dilatih dan dididik.
b.      Embisil, yaitu retardasi mental sedang. Penyandang cacat yang termasuk dalam kelompok ini mampu latih.
c.       Idiot, yaitu retardasi mental berat. Penyandang cacat yang termasuk dalam kelompok ini tidak dapat dilatih atau dididik karena tingkat kecerdasan (IQ) sangat rendah, sehingga hanya mampu rawat.

4.      Down Sindrome

Kelainan bawaan sejak lahir yang terjadi pada 1 diantara 700 bayi. Mongolisma (Down’s Syndrome) ditandai oleh kelainan jiwa atau cacat mental mulai dari yang sedang sampai berat. Tetapi hampir semua anak yang menderita kelainan ini dapat belajar membaca dan merawat dirinya sendiri.
Sindrom Down adalah suatu kumpulan gejala akibat dari abnormalitas kromosom, biasanya kromosom 21, yang tidak berhasil memisahkan diri selama meiosis sehingga terjadi individu dengan 47 kromosom. Down Syndrom merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi pada manusia. Diperkirakan 20 % anak dengan down syndrom dilahirkan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun. Synrom down merupakan cacat bawaan yang disebabkan oleh adanya kelebiha kromosom x. Syndrom ini juga disebut Trisomy 21, karena 3 dari 21 kromosom menggantikan yang normal.95 % kasus syndrom down disebabkan oleh kelebihan kromosom.

 

Etiologi

Penyebab dari Sindrom Down adalah adanya kelainan kromosom yaitu terletak pada kromosom 21 dan 15, dengan kemungkinan-kemungkinan :
         Non Disjunction sewaktu osteogenesis ( Trisomi )
         Translokasi kromosom 21 dan 15
         Postzygotic non disjunction ( Mosaicism )

Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan kromosom ( Kejadian Non Disjunctional ) adalah :
1.      Genetik
Karena menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya peningkatan resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan syndrom down.
2.      Radiasi
Ada sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30 % ibu yang melahirkan ank dengan syndrom down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi konsepsi.
3.      Infeksi Dan Kelainan Kehamilan
4.      Autoimun dan Kelainan Endokrin Pada ibu
Terutama autoimun tiroid atau penyakit yang dikaitkan dengan tiroid.
5.      Umur Ibu
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiolsistemik, perubahan konsentrasi reseptor hormon danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan selam menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
6.      Umur Ayah
Selain itu ada faktor lain seperti gangguan intragametik, organisasi nukleolus, bahan kimia dan frekuensi koitus.

Gejala Klinis
Berat badan waktu lahir dari bayi dengan syndrom down umumnya kurang dari normal.
Beberapa Bentuk Kelainan Pada Anak Dengan Syndrom Down :
         Sutura Sagitalis Yang Terpisah
         Fisura Palpebralis Yang Miring
         Jarak Yang Lebar Antara Kaki
         Fontarela Palsu
         “Plantar Crease” Jari Kaki I Dan II
         Hyperfleksibilitas
         Peningkatan Jaringan Sekitar Leher
         Bentuk Palatum Yang Abnormal
         Hidung Hipoplastik
         Kelemahan Otot Dan Hipotonia
         Bercak Brushfield Pada Mata
         Mulut Terbuka Dan Lidah Terjulur
         Lekukan Epikantus (Lekukan Kulit Yang Berbentuk Bundar) Pada Sudut Mata Sebelah Dalam
         Single Palmar Crease Pada Tangan Kiri Dan Kanan
         Jarak Pupil Yang Lebar
         Oksiput Yang Datar
         Tangan Dan Kaki Yang Pendek Serta Lebar
         Bentuk / Struktur Telinga Yang Abnormal
         Kelainan Mata, Tangan, Kaki, Mulut, Sindaktili
         Mata Sipit

Gejala-Gejala Lain :
         Anak-anak yang menderita kelainan ini umumnya lebih pendek dari anak yang umurnya sebaya.
         Kepandaiannya lebih rendah dari normal.
         Lebar tengkorak kepala pendek, mata sipit dan turun, dagu kecil yang mana lidah kelihatan menonjol keluar dan tangan lebar dengan jari-jari pendek.
         Pada beberapa orang, mempunyai kelaianan jantung bawaan.
Juga sering ditemukan kelainan saluran pencernaan seperti atresia esofagus (penyumbatan kerongkongan) dan atresia duodenum, jugaa memiliki resiko tinggi menderita leukimia limfositik akut. Dengan gejala seperti itu anak dapat mengalami komplikasi retardasi mental, kerusakan hati, bawaan, kelemahan neurosensori, infeksi saluran nafas berulang, kelainan GI.

Komplikasi
         Penyakit Alzheimer’s (penyakit kemunduran susunan syaraf pusat)
         Leukimia (penyakit dimana sel darah putih melipat ganda tanpa terkendalikan).

Penyebab
       Pada kebanyakan kasus karena kelebihan kromosom (47 kromosom, normal 46, dan kadang-kadang kelebihan kromosom tersebut berada ditempat yang tidak normal)
       Ibu hamil setelah lewat umur (lebih dari 40 th) kemungkinan melahirkan bayi dengan Down syndrome.
       Infeksi virus atau keadaan yang mempengaruhi susteim daya tahan tubuh selama ibu hamil.
Patofisiologi
            Penyebab yang spesifik belum diketahiui, tapi kehamilan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun beresiko tinggi memiliki anak syndrom down. Karena diperjirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non-disjunction” pada kromosom yaitu terjadi translokasi kromosom 21 dan 15. Hal ini dapat mempengaruhi pada proses menua.
Prognosis
            44 % syndrom down hidup sampai 60 tahun dan hanya 14 % hidup sampai 68 tahun. Tingginya angka kejadian penyakit jantung bawaan pada penderita ini yang mengakibatkan 80 % kematian. Meningkatnya resiko terkena leukimia pada syndrom down adalah 15 kali dari populasi normal. Penyakit Alzheimer yang lebih dini akan menurunkan harapan hidup setelah umur 44 tahun.
Anak syndrom down akan mengalami beberapa hal berikut :
o    Gangguan tiroid
o    Gangguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang dan otitis serosa
o    Gangguan penglihatan karena adanya perubahan pada lensa dan kornea
o    Usia 30 tahun menderita demensia (hilang ingatan, penurunan kecerdasan danperubahan kepribadian)
5.      Anak Autisme
Anak autis adalah kondisi anak yang mengalami gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial dan afektif, komunikasi verbal dan non-verbal, imajinasi, fleksibilitas, minta, kognisi dan atensi. Ini suatu kelainan dengan ciri perkembangan yang terlambat atau yang abnormal dari hubungan sosial dan bahasa. Hembing (2002, 1), menyatakan bahwa autis adalah gangguan perkembangan pada anak yaitu gangguan perkembangan neurobiologis yang disertai dengan beberapa masalah seperti masalah autoiminitas, gangguan pencernaan, dysbiosis pada usus, gangguan integrasi sensori, keracunan logam berat, ketidakseimbangan asam amino dalam tubuh, jamur candida, bocor usus, abnormalitas sosial dan komunikasi, keterbatasan aktivitas dan minat serta masalah neorologis lainnya. Jadi anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan fungsi otan yang ditandai dengan adanya kesulitan pada kemampuan interaksi sosial, komunikasi dengan lingkungan, perilaku dan adanya keterlambatan pada bidang akademis.

Jenis-jenis Autis
Berdasarkan waktu munculnya gangguan perkembangan autis dapat dibedakan sebagai berikut:
Ø  Autis sejak lahir
Gejala ini dapat di deteksi sejak umur 4-6 bulan, namun biasanya orangtua baru tahu setelah anak berumur 2 tahun. Dicurigai adanya keterlambatan bicara dan jika dapat diketahui sejak lahir maka peluang sembuh lebih besar.
Ø  Autis Regresif
Perkembangan anak sejak lahir normal seperti anak lainnya, tetapi setelah 1,5- 2 Tahun ada kemunduran dengan perkembangannya. Beberapa keterampilan yang telah diperoleh tiba-tiba hilang dan muncul kemampuan baru. Kontak mata hilang saat berbicara dengan orang lain, biasanya orang tua menyadari ketika umur anak 2 tahun dan membawanya ke dokter.
Sementara itu, Yatim (2002) mengelompokkan anak autis menjadi 3 jenis sebagai berikut:
a.       Autis persepsi
Autis persepsi dianggap autisme asli dan disebut juga autisme internal (endogenous) karena kelainan sudah timbul sebelum lahir. Gejala yang dapat diamati sebagai berikut:
         Rangsangan dari luar yang kecil maupun yang kuat, akan menibulkan kecemasan. Tubuh akan mengadakan mekanisme dan reaksi pertahanan hingga terlihat pengembangan masalah.
         Banyaknya pengaruh rangsangan dari orang tua, tidak bisa ditentukan. Orang tua tidak ingin peduli terhadap kebingungan dan kesengsaraan anak,
         Pada kondisi begini orang tua baru peduli atas kelainan anaknya sambil menimbulkan rangsangan-rangsangan yang dapat memperat kebingungan anak,
         Pada saat ini si bapak menyalahkan si ibu karena kurang memiliki kepekaan naluri keibuan. Si bapak tidak menyadari halk tersebut malah memperberat kebingungan anak.        

b.      Autis Reaktif
Pada autis reaktif penderita membuat gerakan-gerakan tertentu yang berulang-ulang dan kadang-kadang disertai kejang-kejang
c.       Autis yang timbul kemudian
Kelainan di kenal setelah anak agak besar, sehingga sulit memberikan pelatihan dan pendidikan untuk mengubah perilaku yang sudah melekat.
Penyebab Anak Autisme
Gangguan autistik disebabkan oleh:
         Family (2 % pada saudara kandung lain),
         Abnormalitas kromosom,
         Prenatal, adanya beberapa penyakit tertentu seperti : Rubella, sipilis, Tuberus sclerosis,
         Neonatal, Lahir dengan alat bantu, premature, berat bayi lahir rendah, usia kandungan yang kurang dari 9 bulan,
         Pascanatal, jatuh pada syaraf tertentu maka pada hati-hati kalau jatuh jangan sampai terkena kepala atau tulang belakang, dan penyakit tertentu seperti sipilis,
         Anak autisme dapat diketahui faktor penyebabnya 20-30 %.

Karakteristik Anak Autis
Karakteristik anak autis merupakan prilaku khas yang meliputi pengetahuan, sikap atau ucapan yang sering ditunjukkan jika dihadapkan pada suatu objek atau situasi tertentu yang dapat mendorong tertunjuknya prilaku tersebut. Karakteristik anak autisme disebut juga dengan trias autistik yang meliputi tiga gangguan yaitu:
Ø  Gangguan atau keanehan dalam berinteraksi dengan lingkungan (orang sekitar, obyek dan situasi)
Ø  Gangguan dalam kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal
Ø  Gangguan atau keanehan dalam berprilaku motorik, minat yang terbatas dan respon sensoris yang kurang memadai. Lebih lanjut Yuniar (2002) merinci karakteristik anak autis sebagai berikut.
o   mempertahankan rutinitas atau sulit menyesuaikan diri dengan perubahan
o   terlambat dalam perkembangan bahasa
o   sering ngoceh atau menggunakan bahasanya sendiri
o   bila sudah bisa berbicara sulit diajak berdialog
o   sering menarik tangan orang dewasa bila menginginkan sesuatu
o   kadang menirukan pertanyaan atau suara yang di dengarnya
o   menangis, tertawa atau marah tanpa sebab yang jelas
o   Menyendiri atau acuh pada suasana sekitar,
o   Takut pada benda, suara atau suasana tertentu,
o   Kadang mengamuk bila keinginan tidak terpenuhi,
o   Sulit bermain dengan teman sebaya,
o   Kontak mata sangat kurang,
o   Sulit diajak dengan cara yang biasa,
o   Cara bermain yang tidak wajar dan monoton, seperti senang membuang-buang, membariskan barang-barang, memutar benda, membuka-buka buku,
o   Suka sekali benda tertentu, seperti botol shampoo, alat dapur, karet gelang, dan merobek-robek kertas,
o   Kurang sensitif atau sangat sensitif terhadap rasa sakit,
o   Hiperaktif atau sangat sensitive terhadap rasa sakit,
o   Cuek bila diajak bicara,
o   Menutup telinga bila mendengar suara tertentu,
o   mencederai diri sendiri atau orang lain yang didekatinya
o   senang pada benda yang berputar
o   tak tertarik pada mainan atau menggunakan mainan tidak sesuai dengan fungsinya
o   tidak bisa bermain dengan pura-pura
o   sering melakukan gerakan yang beulang-ulang
 Karakteristik anak autis meliputi aspek-aspek berikut
Ø  Kesulitan berkomunikasi (verbal dan non verbal)
a.       Jika berkeinginan sesuatu dengan menarik tangan orag lain untuk mendapatkan itu
b.      Kaku dengan kegiaan rutin mereka
c.       Lebih tertarik terhadap benda daripada manusia

Ø  Gerak motorik yang berulang-ulang seperti
a.        Hyperaktif (aktif bergerak sepanjang hari)
b.       Hypoaktif (diam sepanjang hari)
c.        Tidak menyadari atas kehadiran orang lain
d.       Menunjukkan kegiatan bermain yang tertinggal jauh dengan anak seusianya,
e.        Hand flapping artinya sering mengepak-ngepakkan tangan atau jari.

Kriteria anak Autis
Kriteria anak autis yang digunakan pada usia dini adalah berdasarkan diagnosis secara klinis yaitu criteria DSM-IV ( Diagnositik and Statistik Manual-IV) yang dikembangkan oleh kelompok psikiater anak diamerika tahun 1994 (Lumbantobing, 2001-85).
Ø  Gangguan kualitatif interaksi sosial,bermanifestasi pada
a.    Gangguan yang nyata pada perilaku non verbal multiple
b.    Gagal mengembangkan hubungan antar sebaya sesui dengan tingkat-tingkat perkemangannya
c.    Kurang spontanitas membagi kegembiraan, kesenangan dan interes
d.   Kurang hubungan sosial emosional secara timbale
Ø Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi seperti
a.       terlambat atau tidak perkembangan bahasa lisan
b.      pada individu yang bicaranya memadai, terdapat gangguan yang nyata ada kemampuan memulai dan mempertahan kan percakapan dengan orang lain
c.       penggunaan bahasa stereotype
d.      kurang ragan bermain yang memadai atau bermain sosial imitasi sesuai dengan tingkat perkembangan
Ø Gangguan perilaku, interes dan aktifitas yang bermanifestasi pada
a.     perhatian terpaku pada salah satu objek
b.    gerakan yang stereotype dan repetitive
c.     tampak ritual-ritual spesifik dilakuakn anak yang sifatnya non fungsional
d.    perhatiannya terfokus pada bagian-bagian suatu objek.











BAB III
HASIL OBSERVASI DAN WAWANCARA
A.    Hasil Observasi
Observasi kami laksanakan pada hari kamis tanggal 18 Mei 2013 pukul 08.00 wib di SLB Negeri No.                                       , kami mendapatkan data - data 3 orang anak didik yang memilik kelainan khusus yang berbeda dan memperoleh informasi-informasi sebagai berikut:
1.            Identitas anak didik ( Down Sindrome )
Nama                                       : Widi Astuti
Usia                                         : 17 Tahun
Tempat, Tanggal Lahir            : Tanjung Alam, 01 Juni 1996
Jenis Kelamin                          : Perempuan
Agama                                     : Islam
Urutan Kelahiran                   
            Anak ke                       : 12
            Jumlah bersaudara       : 12 bersaudara
Nama orang tua
            Ayah                           : Sukimin
            Ibu                               : Kawiyah
Pekerjaan Orang tua                : Bertani
Tingkat pendidikan                 : SD  
Kelas                                       : 5

Ciri khusus                              : IQ lemah, bicara kurang jelas, dan menghayal tinggi

2.            Identitas anak didik ( Tuna rungu  / Tuna wicara )

Nama                                       : Sri Wulan Dari
Usia                                         : 9 Tahun
Tempat, Tanggal Lahir            : Sei Kaman, 13 Oktober  2004
Jenis Kelamin                          : Perempuan
Agama                                     : Islam
Urutan Kelahiran                   
            Anak ke                       : 1
            Jumlah bersaudara       : 3 bersaudara
Nama orang tua
            Ayah                           : Bambang
            Ibu                               : Rita
Pekerjaan orang tua                 : Wiraswasta
Tingkat pendidikan                 : SD  
Kelas                                       : 3

Ciri khusus                              : Tidak dapat berbicara, dan tidak dapat mendengar







3.            Identitas anak didik ( Autisme )

Nama                                       : Al Hafis Siregar
Usia                                         : 10 Tahun
Tempat, Tanggal Lahir            : Kisaran, 13 Maret 2003
Jenis Kelamin                          : Laki - laki
Agama                                     : Islam
Urutan Kelahiran                   
            Anak ke                       : 1
            Jumlah bersaudara       : 2 bersaudara
Nama orang tua
            Ayah                           : Sofyan Siregar
            Ibu                               : -
Pekerjaan orang tua                 : Wiraswasta
Tingkat pendidikan                 : SD  
Kelas                                       : 1 Autis

Ciri khusus                              : Hiperaktif, emosi tidak terkontrol, cuek dengan keadaan,
                                                  dan kurang bersosialisasi.











BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Sistem pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus tidak jauh berbeda dengan anak normal. Cuma cara pengajarannya atau penyampaiannya sedikit agak berbeda. Anak berkebutuhan khusus juga diajarkan pelajaran-pelajaran umum dan seperti akan lulus sekolah, dilakukan ujian nasional seperti yang  ada di sekolah umum, akan tetapi pelajaran atau soal yang diajarkan atau diberikan sedikit agar lebih ringan.
Anak dengan kebutuhan khusus bukanlah aib dan bukanlah tidak dapat berprestasi. Mereka memang memiliki kekurangan, akan tetapi dibalik kekurangan mereka terdapat kelebihan yang sangat membanggakan. Anak-anak dengan kebutuhan khusus juga dapat berprestasi, dan mereka berhak mendapatkan pendidikan seperti anak normal lainnya.
Dibalik kekurangan pasti ada kelebihan, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini. Dimana anak dengan kekurangan sebenarnya bisa berprestasi juga  tergantung bagaimana peran orang tua serta pendidik dalam mendidik anak-anak tersebut. Kita sebagai orang yang mungkin memiliki kesempurnaan, hendaknya mau bersyukur karna diluar sana masih ada orang dengan keterbatasan yang dimilikinya.


3.2    Saran
Karena keterbatasan waktu, maka penelitian ini sangatlah terbatas. Semoga penelitian ini dapat digunakan sebagai wawasan pembelajaran untuk masyarakat umum.




Kumpulan Photo
















































Kumpulan Photo
















































Kumpulan Photo
















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar